Teknik Mengolah Sampah Organik Menjadi Pupuk
Sampah dapat digolongkan menjadi dua
macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik
meliputi sampah dapur, sampah daun-daunan, dan sampah yang dapat
membusuk. Sedangkan sampah anorganik meliputi sampah logam, sampah
plastik, dan sampah-sampah yang tidak dapat membusuk. Sampah organik
sebenarnya lebih mudah untuk ditangani daripada sampah anorganik, karena
sifatnya yang dapat diurai oleh bakteri. Namun, masih banyak warga
masyarakat yang kurang paham cara tepat mengolah sampah jenis ini.
Pengolahan
sampah organik yang tepat akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
Anda dan lingkungan sekitar Anda. Salah satu cara pengolahan sampah
organik yang tepat dan efektif adalah teknik biopori. Teknik ini dapat
diaplikasikan di hampir semua jenis lingkungan tempat tinggal seperti
daerah pedesaan, daerah perkotaan, maupun daerah pinggir pantai. Teknik
biopori akan membantu Anda mengolah sampah organik untuk dijadikan pupuk
kompos tanpa harus mengeluarkan banyak energi dan biaya. Teknik
pengolahan sampah organik yang satu ini hanya membutuhkan sedikit
tempat, bahkan Anda bisa mengaplikasikannya di halaman rumah Anda.
Pengolahan sampah dengan teknik biopori tidak membutuhkan pengamatan dan
perawatan ekstra. Teknik ini dapat diaplikasikan hanya dengan membuat
lubang-lubang kecil berdiameter sekitar 10 cm sampai 30 cm dengan
kedalaman 30-100 cm di lokasi sekitar rumah Anda, seperti di halaman
rumah, di bawah pohon, atau dimana saja sesuai keinginan Anda.
Dalam pembuatannya, Anda wajib memberi jarak antara lubang satu dengan lubang yang lain sejauh kira-kira 50-100 cm. Masing-masing ujung lubang atau pori dapat dilapisi dengan lapisan semen setebal 2-3 cm saja. Hal ini dimaksudkan agar kaki Anda tidak terperosok ke dalam lubang dan tanah di sekitar lubang tidak longsor ke dalam lubang itu sendiri. Selanjutnya, Anda dapat memasukkan sampah organik seperti daun-daun kering, sisa potongan sayuran, atau sampah dapur lainnya kecuali sampah makanan seperti nasi, sisa lauk, atau sisa sayuran. Sampah organik yang Anda hasilkan satu hari cukup dimasukkan ke satu lubang saja. Begitu pula untuk seterusnya.
Setelah sampah masuk semua, tutup lubang dengan konblok yang telah dilubangi untuk membantu proses penguraian dan menjaga kelembaban sampah agar cepat membusuk. Seminggu sekali Anda wajib mengecek volume sampah simpanan Anda. Jika sudah mulai berkurang, Anda dapat menambahkannya dengan lapisan sampah yang baru. Setelah kurang lebih satu bulan, Anda dapat membuka konblok penutup lubang biopori Anda. Lalu, Anda tinggal mengeruk lapisan sampah terbawah yang telah menjadi kompos. Anda dapat menggunakan pupuk alami tersebut untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah Anda. Untuk penggunaan biopori di musim hujan, Anda dapat menambahkan kedalaman maupun kuantitas lubang biopori Anda. Dengan begitu sampah organik simpanan Anda akan tetap aman dan daerah peresapan air di lingkungan Anda semakin banyak. Dengan begitu, banjir juga akan teratasi.
Pengaplikasian teknik pengolahan sampah organik yang efektif dan ramah lingkungan seperti teknik biopori sangatlah penting. Teknik ini akan membuat Anda semakin bijak dalam mengolah sampah dari dapur dan lingkungan rumah Anda sendiri. Selain itu, Anda juga dapat menarik manfaatnya seperti hasil olahannya yang berupa pupuk kompos, menambah volume air tanah, mengurangi kerusakan lingkungan, mengurangi potensi tanah longsor maupun erosi, dan manfaat untuk mengurangi volume genangan air pemicu banjir, khususnya di daerah padat penduduk dan kurang resapan air.
Dalam pembuatannya, Anda wajib memberi jarak antara lubang satu dengan lubang yang lain sejauh kira-kira 50-100 cm. Masing-masing ujung lubang atau pori dapat dilapisi dengan lapisan semen setebal 2-3 cm saja. Hal ini dimaksudkan agar kaki Anda tidak terperosok ke dalam lubang dan tanah di sekitar lubang tidak longsor ke dalam lubang itu sendiri. Selanjutnya, Anda dapat memasukkan sampah organik seperti daun-daun kering, sisa potongan sayuran, atau sampah dapur lainnya kecuali sampah makanan seperti nasi, sisa lauk, atau sisa sayuran. Sampah organik yang Anda hasilkan satu hari cukup dimasukkan ke satu lubang saja. Begitu pula untuk seterusnya.
Setelah sampah masuk semua, tutup lubang dengan konblok yang telah dilubangi untuk membantu proses penguraian dan menjaga kelembaban sampah agar cepat membusuk. Seminggu sekali Anda wajib mengecek volume sampah simpanan Anda. Jika sudah mulai berkurang, Anda dapat menambahkannya dengan lapisan sampah yang baru. Setelah kurang lebih satu bulan, Anda dapat membuka konblok penutup lubang biopori Anda. Lalu, Anda tinggal mengeruk lapisan sampah terbawah yang telah menjadi kompos. Anda dapat menggunakan pupuk alami tersebut untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah Anda. Untuk penggunaan biopori di musim hujan, Anda dapat menambahkan kedalaman maupun kuantitas lubang biopori Anda. Dengan begitu sampah organik simpanan Anda akan tetap aman dan daerah peresapan air di lingkungan Anda semakin banyak. Dengan begitu, banjir juga akan teratasi.
Pengaplikasian teknik pengolahan sampah organik yang efektif dan ramah lingkungan seperti teknik biopori sangatlah penting. Teknik ini akan membuat Anda semakin bijak dalam mengolah sampah dari dapur dan lingkungan rumah Anda sendiri. Selain itu, Anda juga dapat menarik manfaatnya seperti hasil olahannya yang berupa pupuk kompos, menambah volume air tanah, mengurangi kerusakan lingkungan, mengurangi potensi tanah longsor maupun erosi, dan manfaat untuk mengurangi volume genangan air pemicu banjir, khususnya di daerah padat penduduk dan kurang resapan air.


0 komentar:
Posting Komentar