Read more: http://farhanshare.blogspot.com/2012/09/cara-agar-artikel-blog-tidak-bisa-di_1.html#ixzz27DAU0d58 | Dendy Hidayat [D E N Z] Read more: http://blogkomputer12.blogspot.com/2012/06/cara-membuat-teks-berjalan-di-title-bar.html#ixzz27HuaikAS

Invasi Ulat Bulu Menggila dan Berbahaya


Invasi Ulat Bulu Menggila dan Berbahaya


Ulat bulu merupakan bagian larva yang termasuk ordo Lepidoptera. Sebagian besar hewan ini mengonsumsi tumbuhan (herbivora) dan serangga. Ulat bulu merupakan hama yang rakus mengonsumsi daun sehingga banyak merugikan petani. Ulat bulu juga merupakan bentuk metamorphosis yang nantinya akan berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu.
Asal-usul etimologi ulat bulu berasal dari awal abad 16. Nama ulat bulu atau caterpillars berasal dari bahasa Prancis lama yaitu catepelose yang berarti kucing (cattus: bahasa Latin) dan pelose yang artinya bulu. Ulat bulu juga memiliki nama sebutan yaitu geometrids atau inchworms karena cara hewan ini bergerak seolah mengukur bumi. Ulat bulu memiliki tubuh lunak yang bisa menumbuhkan bulu dengan cepat.
Bagian tubuh ulat, hanya bagian kepala yang keras. Ulat bulu memiliki rahang kuat dan tajam untuk mengunyah daun. Namun, bagi ulat bulu dewasa, rahang mereka cenderung lebih lembut. Di balik rahang, ulat bulu memiliki fitur pemintal yang bisa memproduksi sutra. Secara rata-rata, siklus hidup telur, larva (bentuk ulat) hingga menjadi kupu-kupu malam (ngengat) adalah sekitar 30 hari. Namun peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengindikasikan siklus hidup ulat bulu sekarang lebih cepat 3-4 hari.
Siklus ulat bulu lebih pendek dibanding hewan lainnya, terjadi manakala terpenuhinya host plant atau inang sehingga menyediakan suplai makanan bagi makhluk tersebut. Berdasar teori fisiologi serangga, kurangnya makanan bagi serangga akan membuat siklus hidupnya lambat. Sebaliknya, jika tanaman yang menjadi makanan baginya sedikit maka siklus hidupnya lama.
Ketidak seimbangan ekosistem ulat bulu dan predator akhir-akhir ini, menyebabkan puluhan ulat bulu menginvasi di berbagai daerah. Diantaranya di Probolinggo, Jombang, Malang, Yogyakarta dan Bali, sebagian besar di pohon cemara, dan beberapa di antaranya berada di pohon mangga. Serangan ulat bulu di Probolinggo, Jawatimur, merupakan kejadian aneh. Pasalnya ribuan ulat bulu bukan hanya menyerang pepohonan namun ulat bulu juga menyerang rumah-rumah warga. Ulat bulu yang menyerang warga diketahui berjenis desgiria inclusa.
Racun Berbahaya
Ulat bulu mempertahankan diri dengan bulu atau tanduk yang berhubungan dengan racun, sering disebut urticating hairs. Di setiap bulu maupun tanduknya tersimpan racun yang mematikan dan berbahaya bagi manusia. Akibatnya dari gatal-gatal, alergi, sampai kepada kematian.
Racun pada ulat bulu yang paling menakutkan ditemukan pada genus Lonomia yang hidup di Amerika Selatan. Racun ini merupakan antikoagulan yang sangat kuat sehingga menyebabkan pendarahan pada manusia, bahkan hingga meninggal. Bahan kimia itu kini sedang diselidiki oleh ahli medis. Meskipun begitu, sebagian besar bulu itu hanya menyebabkan iritasi ringan atau penyakit kulit.
Saat kulit korban melakukan kontak dengan toksin dari ulat ini beberapa hal yang terjadi adalah racun dari Lonomia menyebabkan reaksi kulit yang sederhana, infeksi kulit, luka bakar, alergi, dan pendarahan umum, hingga gagal ginjal, dan dapat menyebabkan kematian dalam kasus-kasus terburuk (Duarte, 1990).  Dalam sejarahnya, bulu ulat bulu terkadang membawa venom di dalam tubuhnya yang bisa menimbulkan cedera serius pada manusia, mulai dari urticarial dermatitis, atopic asthma, osteochondritis, consumption coagulopathy, gagal ginjal dan pendarahan intraserebral. Meskipun, gatal-gatal kulit adalah dampak yang paling umum bila manusia menyentuh ulat bulu. Bulu ulat bulu juga bisa menyebabkan infeksi kerato-konjungtivis. Duri tajam pada ujung bulu ulat bulu bisa bersarang di jaringan lunak dan selaput lendir di tubuh manusia, selaput mata misalnya. Jika masuk ke jaringan tubuh dan sulit diekstrak, dikhawatirkan duri masuk ke membran tubuh.
Menurut berita di Kompas.com dan Tempo interaktif, ulat bulu yang menyerah belahan daerah di Indonesia tidak sampai menyebabkan kematian. Korban akan mengalami gangguan gatal-gatal dan kalau susah hilang, korban bisa ke Puskesmas dengan gratis biaya. (Kompas.com)
Antisipasi dan Pencegahan
Kepanikan warga dan semakin banyaknya serangan ulat bulu menuntut Pemda dan warga segera mengatasi kasus ini. Berikut beberapa antisipasi terhadap serangan ulat bulu dan pencegahan agar ulat bulu tidak berkembang biak:
Intektisidamerupakan bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk mengendalikan serangga, termasuk ulat bulu. Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni si serangga tersebut. Intektisida sudah banyak tersedia di pasaran. Intektisida merupakan salah satu jalan keluar untuk mencegah hama ulat bulu meluas. (http://www.scribd.com/doc/3116460/Pengenalan-Insektisida)
Sanitasi, kalau ada pohon-pohon, jangan sampai serasah atau daun-daun keringnya menumpuk karena bisa menjadikan tempat lebih lembap dan mempercepat ulat berkembang biak. Tempat tempat yang lembab yang berada di bawah pepohononan memungkinkannya telur dan larva tumbuh dengan cepat. Segera dibersihkan dikumpulkan serta dibakar. Selain itu pemusnahan telur dan pupa atau kepompong bisa dilakukan. Cara ini akan memutuskan siklus metamorfosis menjadi ulat bulu. Apabila sudah menjadi kupu-kupu maka kumpulkan lalu dibakar.
Ekosistem, tidak seimbangnya ekosistem merupakan salah satu penyebab membludaknya kawanan ulat. Lagi-lagi burung sebagai pemangsa dominan banyak diburu manusia, akhirnya ulat sekarang yang memburu manusia. Tidak sedikit petani mengalami kerugian karena wabah ini, sehingga kesadaran manusia itu sendiri sangat dibutuhkan mengatasi masalah ini.
Jaga jarak, jika di dahan atau di pohon atau dimanapun terdapat ulat bulu maupun ulat bertanduk, jangan sekali-kali mendekat. Karena kalau sampai terkena bulu atau tanduk beracunnya bisa mengakibatkan iritasi dan alergi berupa gatal-gatal dan bengkak.
Referensi
A.C.D. van Enter, J. Adler and J.A.M.S. Duarte (1990), Finite-Size Effects for some Bootstrap Per-colation Models, Journal of Statistical Physics Vol 60
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Indonesia angkatan 2007. Tugas Penulisan Kreatif yang di ampu oleh dosen Iwan Awaludin Yusuf.


sumber    :http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE
 

Invasi Ulat Bulu Menggila dan Berbahaya


Invasi Ulat Bulu Menggila dan Berbahaya


Ulat bulu merupakan bagian larva yang termasuk ordo Lepidoptera. Sebagian besar hewan ini mengonsumsi tumbuhan (herbivora) dan serangga. Ulat bulu merupakan hama yang rakus mengonsumsi daun sehingga banyak merugikan petani. Ulat bulu juga merupakan bentuk metamorphosis yang nantinya akan berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu.
Asal-usul etimologi ulat bulu berasal dari awal abad 16. Nama ulat bulu atau caterpillars berasal dari bahasa Prancis lama yaitu catepelose yang berarti kucing (cattus: bahasa Latin) dan pelose yang artinya bulu. Ulat bulu juga memiliki nama sebutan yaitu geometrids atau inchworms karena cara hewan ini bergerak seolah mengukur bumi. Ulat bulu memiliki tubuh lunak yang bisa menumbuhkan bulu dengan cepat.
Bagian tubuh ulat, hanya bagian kepala yang keras. Ulat bulu memiliki rahang kuat dan tajam untuk mengunyah daun. Namun, bagi ulat bulu dewasa, rahang mereka cenderung lebih lembut. Di balik rahang, ulat bulu memiliki fitur pemintal yang bisa memproduksi sutra. Secara rata-rata, siklus hidup telur, larva (bentuk ulat) hingga menjadi kupu-kupu malam (ngengat) adalah sekitar 30 hari. Namun peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengindikasikan siklus hidup ulat bulu sekarang lebih cepat 3-4 hari.
Siklus ulat bulu lebih pendek dibanding hewan lainnya, terjadi manakala terpenuhinya host plant atau inang sehingga menyediakan suplai makanan bagi makhluk tersebut. Berdasar teori fisiologi serangga, kurangnya makanan bagi serangga akan membuat siklus hidupnya lambat. Sebaliknya, jika tanaman yang menjadi makanan baginya sedikit maka siklus hidupnya lama.
Ketidak seimbangan ekosistem ulat bulu dan predator akhir-akhir ini, menyebabkan puluhan ulat bulu menginvasi di berbagai daerah. Diantaranya di Probolinggo, Jombang, Malang, Yogyakarta dan Bali, sebagian besar di pohon cemara, dan beberapa di antaranya berada di pohon mangga. Serangan ulat bulu di Probolinggo, Jawatimur, merupakan kejadian aneh. Pasalnya ribuan ulat bulu bukan hanya menyerang pepohonan namun ulat bulu juga menyerang rumah-rumah warga. Ulat bulu yang menyerang warga diketahui berjenis desgiria inclusa.
Racun Berbahaya
Ulat bulu mempertahankan diri dengan bulu atau tanduk yang berhubungan dengan racun, sering disebut urticating hairs. Di setiap bulu maupun tanduknya tersimpan racun yang mematikan dan berbahaya bagi manusia. Akibatnya dari gatal-gatal, alergi, sampai kepada kematian.
Racun pada ulat bulu yang paling menakutkan ditemukan pada genus Lonomia yang hidup di Amerika Selatan. Racun ini merupakan antikoagulan yang sangat kuat sehingga menyebabkan pendarahan pada manusia, bahkan hingga meninggal. Bahan kimia itu kini sedang diselidiki oleh ahli medis. Meskipun begitu, sebagian besar bulu itu hanya menyebabkan iritasi ringan atau penyakit kulit.
Saat kulit korban melakukan kontak dengan toksin dari ulat ini beberapa hal yang terjadi adalah racun dari Lonomia menyebabkan reaksi kulit yang sederhana, infeksi kulit, luka bakar, alergi, dan pendarahan umum, hingga gagal ginjal, dan dapat menyebabkan kematian dalam kasus-kasus terburuk (Duarte, 1990).  Dalam sejarahnya, bulu ulat bulu terkadang membawa venom di dalam tubuhnya yang bisa menimbulkan cedera serius pada manusia, mulai dari urticarial dermatitis, atopic asthma, osteochondritis, consumption coagulopathy, gagal ginjal dan pendarahan intraserebral. Meskipun, gatal-gatal kulit adalah dampak yang paling umum bila manusia menyentuh ulat bulu. Bulu ulat bulu juga bisa menyebabkan infeksi kerato-konjungtivis. Duri tajam pada ujung bulu ulat bulu bisa bersarang di jaringan lunak dan selaput lendir di tubuh manusia, selaput mata misalnya. Jika masuk ke jaringan tubuh dan sulit diekstrak, dikhawatirkan duri masuk ke membran tubuh.
Menurut berita di Kompas.com dan Tempo interaktif, ulat bulu yang menyerah belahan daerah di Indonesia tidak sampai menyebabkan kematian. Korban akan mengalami gangguan gatal-gatal dan kalau susah hilang, korban bisa ke Puskesmas dengan gratis biaya. (Kompas.com)
Antisipasi dan Pencegahan
Kepanikan warga dan semakin banyaknya serangan ulat bulu menuntut Pemda dan warga segera mengatasi kasus ini. Berikut beberapa antisipasi terhadap serangan ulat bulu dan pencegahan agar ulat bulu tidak berkembang biak:
Intektisidamerupakan bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk mengendalikan serangga, termasuk ulat bulu. Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni si serangga tersebut. Intektisida sudah banyak tersedia di pasaran. Intektisida merupakan salah satu jalan keluar untuk mencegah hama ulat bulu meluas. (http://www.scribd.com/doc/3116460/Pengenalan-Insektisida)
Sanitasi, kalau ada pohon-pohon, jangan sampai serasah atau daun-daun keringnya menumpuk karena bisa menjadikan tempat lebih lembap dan mempercepat ulat berkembang biak. Tempat tempat yang lembab yang berada di bawah pepohononan memungkinkannya telur dan larva tumbuh dengan cepat. Segera dibersihkan dikumpulkan serta dibakar. Selain itu pemusnahan telur dan pupa atau kepompong bisa dilakukan. Cara ini akan memutuskan siklus metamorfosis menjadi ulat bulu. Apabila sudah menjadi kupu-kupu maka kumpulkan lalu dibakar.
Ekosistem, tidak seimbangnya ekosistem merupakan salah satu penyebab membludaknya kawanan ulat. Lagi-lagi burung sebagai pemangsa dominan banyak diburu manusia, akhirnya ulat sekarang yang memburu manusia. Tidak sedikit petani mengalami kerugian karena wabah ini, sehingga kesadaran manusia itu sendiri sangat dibutuhkan mengatasi masalah ini.
Jaga jarak, jika di dahan atau di pohon atau dimanapun terdapat ulat bulu maupun ulat bertanduk, jangan sekali-kali mendekat. Karena kalau sampai terkena bulu atau tanduk beracunnya bisa mengakibatkan iritasi dan alergi berupa gatal-gatal dan bengkak.
Referensi
A.C.D. van Enter, J. Adler and J.A.M.S. Duarte (1990), Finite-Size Effects for some Bootstrap Per-colation Models, Journal of Statistical Physics Vol 60
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Indonesia angkatan 2007. Tugas Penulisan Kreatif yang di ampu oleh dosen Iwan Awaludin Yusuf.


sumber    :http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE
 

Satu Gowes Sepeda Datangkan Sejuta Manfaat


Satu Gowes Sepeda Datangkan Sejuta Manfaat



Belakangan ini bersepeda menjadi kegiatan yang difavoritkan banyak orang. Mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga orang kantoran mulai menggemari aktivitas yang satu ini. Lihat saja berbagai perkumpulan sepeda yang mulai marak di mana-mana. Biasanya acara bersepeda ria dilakukan di waktu senggang, seperti sore hari, atau saat libur. Bahkan tak sedikit pula yang menanggalkan kendaraan bermotornya dan memilih menggunakan sepeda sebagai alternatif untuk menuju ke sekolah atau tempat kerja.
Tapi tahukah Anda apa manfaat dari bersepeda? Di balik kesannya sebagai olahraga yang sederhana, ternyata bersepeda menyimpan banyak sekali dampak baik bagi tubuh kita. Bersepeda merupakan olahraga yang lebih ringan bila dibandingkan dengan berenang atau joging. Ini dikarenakan berat tubuh kita disangga oleh sadel sepeda. Bersepeda juga termasuk olahraga kardio yang paling baik, karena dapat dilakukan oleh orang-orang dengan keterbatasan, seperti obesitas, gangguan lutut, dan nyeri kaki.
Keuntungan pertama yang kita peroleh dari bersepeda adalah dapat membakar kalori. Olahraga sepeda dapat dijadikan salah satu cara untuk mengurangi berat badan. Dengan bersepeda kita sama saja membakar energi kita yang dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi, semisal coklat dan sedikit minuman beralkohol (sekitar 300 kalori) (NN, 29 Mei 2009. Manfaat Bersepeda untuk Kesehatanhttp://zonasepeda.com/artikel/manfaat-bersepeda-untuk-kesehatan.html. Diakses tanggal 17 April 2011). Umumnya mengendarai sepeda dengan kecepatan rata-rata, kita dapat membakar sampai 450 kalori per jam. Bagi seorang wanita yang memiliki berat tubuh sekitar 60 kg, mengayuh dengan kecepatan 22 km/jam, bisa menghabiskan kurang lebih 488 kalori dalam waktu 60 menit.
Sebagai contoh, bila tempat tinggal kita berjarak 8 km dari tempat tujuan, maka setidaknya kita sudah berolahraga selama 20 menit. Lalu jika bersepeda dua kali seminggu, kita akan membakar 3.000 kalori ekstra dalam tubuh, yang berarti setengah kilogram dalam kurun waktu satu bulan. Atau kita bersepeda selama 15 menit, 5 – 6 kali dalam seminggu, kita dapat mengurangi berat badan sebesar 11 pound dalam satu tahun.
Manfaat selanjutnya adalah olahraga sepeda mampu mendorong energi. Sebuah studi di jurnal Psychotherapy and Psychosomatics menyebutkan bahwa bersepeda akan menaikkan level energi sebanyak 20 persen dan mengurangi kelelahan hingga 65 persen. Ini terjadi karena saat bersepeda otak akan mengeluarkan neurotransmitter dopamine, yang berhubungan dengan energi. Efeknya peredaran darah kita menjadi lancar dan tubuh pun akan terasa lebih segar.
Aktivitas bersepeda juga dapat menggerakkan segala aspek dalam tubuh kita. Mulai dari otot hingga organ-organ dalam tubuh. Biasanya, para pengayuh sepeda memiliki kaki yang kencang. Bagian otot-otot kaki akan bekerja semua untuk membantu mengayuh. Selain kaki, tubuh bagian atas juga ikut bekerja, karena menggenggam kuat besi pengendali akan terbentuk dengan sendirinya (Risa, 1 Februari 2011. 7 Alasan untuk Memulai Bersepeda.http://b2w-indonesia.or.id/bacanote/7_alasan_untuk_memulai_bersepeda. Diakses tanggal 17 April 2011). Lalu apabila mengayuh dengan posisi berdiri, kita akan melatih otot bagian tengah tubuh dan trisep. Seluruh badan, seperti otot tangan dan kaki pun akan bergerak, sehingga dapat mengurangi keluhan seperti nyeri punggung dan tulang, karena sendi-sendi menjadi terlatih.
Tak kalah pentingnya, jantung adalah organ utama yang mendapat manfaat dari bersepeda. Saat berpacu di atas sepeda, denyut jantung turut berpacu sesuai kayuhan, seperti dilansir oleh Womenshealth. Tingkat kolesterol dan tekanan darah dapat ditekan dengan berolahraga sepeda. Hasil penelitian menyebutkan bersepeda dalam jarak yang pendek dan sering dilakukan akan mengurangi kematian kurang lebih 22% (NN, 29 Mei 2009. Manfaat Bersepeda untuk Kesehatanhttp://zonasepeda.com/artikel/manfaat-bersepeda-untuk-kesehatan.html. Diakses tanggal 17 April 2011). Maka risiko berbagai penyakit seperti serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes pun dapat dicegah dengan bersepeda.
Tanpa disadari pula, aktivitas bersepeda juga dapat meningkatkan mood yang ada dalam diri kita. Tingkat ketegangan dan stres dapat dikurangi dengan bersepeda. Tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Memang bersepeda dapat menimbulkan rasa lelah dan lemah karena tubuh kita akan bekerja ekstra keras dari biasanya. Tapi itu terjadi pada awalnya saja. Seterusnya apabila kita melakukannya secara berkala, maka rasa bugar lah yang akan didapat. Apalagi jika kita bersepeda sambil memperhatikan lingkungan sekitar, serta bersosialisasi dengan alam, maka semangat positif pun akan timbul dengan sendirinya.
Namun, bersepeda ternyata juga mempertimbangkan beberapa faktor. Seperti persoalan usia. Sebenarnya aktivitas ini baik bagi segala umur. Hanya saja bagi orang dewasa di atas 50 tahun, atau wanita di atas 40 tahun tidak disarankan untuk melakukan olahraga bersepeda. Itu karena risiko cedera tulang sangat tinggi, mengingat tingkat keseimbangan manula yang telah turun dan kualitas tulang yang semakin berkurang. Di samping itu adalah masalah kesehatan. Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung maupun asma disarankan untuk berhati-hati. Ini dikarenakan bersepeda memicu pernafasan untuk bekerja lebih cepat, sehingga dikhawatirkan akan langsung berdampak pada penderita jantung dan asma tersebut. Ada baiknya untuk mengkonsultasikan kesehatan dengan dokter ahli sebelum kita mulai bersepeda.
Sebelum bersepeda sebaiknya lakukan dulu beberapa pemanasan kecil. Cooling down dengan otot paha dan betis sangat dianjurkan, karena saat bersepeda kedua otot itulah yang maksimal digunakan. Sebaliknya kontraksi otot perut menjadi berkurang. Perhatikan pula jarak panjang tungkai dengan tinggi sadel. Jangan sampai lutut terlalu menekuk maupun terlalu lurus ketika mengayuh. Pastikan lutut hanya tertekuk sedikit, yakni sekitar 25 derajat, saat sedang mengayuh ke atas. Jarak terbaik saat mengayuh, paling jauh sudut lutut kurang dari 180 derajat sehingga efisiensi gerakan lebih baik (Damayanti, 24 Februari 2010. Manfaat Berlipat Olahraga Keluarga (2). http://tabloidnova.net/Nova/Kesehatan/Kebugaran/Manfaat-Berlipat-Olahraga-Keluarga-2. Diakses tanggal 17 April 2011).
Hal yang juga jangan dilupakan adalah keselamatan dalam berkendara. Pakailah helm dan pengaman (decker) agar terhindar dari cedera. Banyak pengendara sepeda yang tidak menganggap penting atribut-atribut dalam bersepeda. Namun sebenarnya semua itu merupakan sesuatu yang vital. Terlebih bila bersepeda di tengah jalan raya yang terdiri dari mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Akan lebih aman bila kita melengkapi diri dengan berbagai pengaman dalam mengendarai sepeda.
Selain manfaat bagi kesehatan diri, kegiatan bersepeda juga berdampak terhadap aspek lingkungan. Apabila dilakukan secara rutin dan beramai-ramai, polusi udara pun akan terkurangi. Terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. Tapi hal ini pun mengandung risiko, sebab kemungkinan terpapar polusi akan menjadi mudah bagi pengendara sepeda. Belum lagi risiko kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi agaknya hal itu tidak perlu dipusingkan lagi. Menurut jurnal penelitian Environmental Health Perspective, yang dikeluarkan Universitas Utrecht, Belanda, tahun 2010 menyebutkan, manfaat yang diperoleh dari kegiatan bersepeda di kota-kota jauh lebih besar, apabila dibandingkan dengan risiko kecelakaan dan polusi yang didapat. Asalkan kita bersikap hati-hati dan mengindahkan peraturan lalu lintas, niscaya keselamatan diri pun akan tetap terjaga.

Sumber     :http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE
 

Satu Gowes Sepeda Datangkan Sejuta Manfaat


Satu Gowes Sepeda Datangkan Sejuta Manfaat



Belakangan ini bersepeda menjadi kegiatan yang difavoritkan banyak orang. Mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga orang kantoran mulai menggemari aktivitas yang satu ini. Lihat saja berbagai perkumpulan sepeda yang mulai marak di mana-mana. Biasanya acara bersepeda ria dilakukan di waktu senggang, seperti sore hari, atau saat libur. Bahkan tak sedikit pula yang menanggalkan kendaraan bermotornya dan memilih menggunakan sepeda sebagai alternatif untuk menuju ke sekolah atau tempat kerja.
Tapi tahukah Anda apa manfaat dari bersepeda? Di balik kesannya sebagai olahraga yang sederhana, ternyata bersepeda menyimpan banyak sekali dampak baik bagi tubuh kita. Bersepeda merupakan olahraga yang lebih ringan bila dibandingkan dengan berenang atau joging. Ini dikarenakan berat tubuh kita disangga oleh sadel sepeda. Bersepeda juga termasuk olahraga kardio yang paling baik, karena dapat dilakukan oleh orang-orang dengan keterbatasan, seperti obesitas, gangguan lutut, dan nyeri kaki.
Keuntungan pertama yang kita peroleh dari bersepeda adalah dapat membakar kalori. Olahraga sepeda dapat dijadikan salah satu cara untuk mengurangi berat badan. Dengan bersepeda kita sama saja membakar energi kita yang dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi, semisal coklat dan sedikit minuman beralkohol (sekitar 300 kalori) (NN, 29 Mei 2009. Manfaat Bersepeda untuk Kesehatanhttp://zonasepeda.com/artikel/manfaat-bersepeda-untuk-kesehatan.html. Diakses tanggal 17 April 2011). Umumnya mengendarai sepeda dengan kecepatan rata-rata, kita dapat membakar sampai 450 kalori per jam. Bagi seorang wanita yang memiliki berat tubuh sekitar 60 kg, mengayuh dengan kecepatan 22 km/jam, bisa menghabiskan kurang lebih 488 kalori dalam waktu 60 menit.
Sebagai contoh, bila tempat tinggal kita berjarak 8 km dari tempat tujuan, maka setidaknya kita sudah berolahraga selama 20 menit. Lalu jika bersepeda dua kali seminggu, kita akan membakar 3.000 kalori ekstra dalam tubuh, yang berarti setengah kilogram dalam kurun waktu satu bulan. Atau kita bersepeda selama 15 menit, 5 – 6 kali dalam seminggu, kita dapat mengurangi berat badan sebesar 11 pound dalam satu tahun.
Manfaat selanjutnya adalah olahraga sepeda mampu mendorong energi. Sebuah studi di jurnal Psychotherapy and Psychosomatics menyebutkan bahwa bersepeda akan menaikkan level energi sebanyak 20 persen dan mengurangi kelelahan hingga 65 persen. Ini terjadi karena saat bersepeda otak akan mengeluarkan neurotransmitter dopamine, yang berhubungan dengan energi. Efeknya peredaran darah kita menjadi lancar dan tubuh pun akan terasa lebih segar.
Aktivitas bersepeda juga dapat menggerakkan segala aspek dalam tubuh kita. Mulai dari otot hingga organ-organ dalam tubuh. Biasanya, para pengayuh sepeda memiliki kaki yang kencang. Bagian otot-otot kaki akan bekerja semua untuk membantu mengayuh. Selain kaki, tubuh bagian atas juga ikut bekerja, karena menggenggam kuat besi pengendali akan terbentuk dengan sendirinya (Risa, 1 Februari 2011. 7 Alasan untuk Memulai Bersepeda.http://b2w-indonesia.or.id/bacanote/7_alasan_untuk_memulai_bersepeda. Diakses tanggal 17 April 2011). Lalu apabila mengayuh dengan posisi berdiri, kita akan melatih otot bagian tengah tubuh dan trisep. Seluruh badan, seperti otot tangan dan kaki pun akan bergerak, sehingga dapat mengurangi keluhan seperti nyeri punggung dan tulang, karena sendi-sendi menjadi terlatih.
Tak kalah pentingnya, jantung adalah organ utama yang mendapat manfaat dari bersepeda. Saat berpacu di atas sepeda, denyut jantung turut berpacu sesuai kayuhan, seperti dilansir oleh Womenshealth. Tingkat kolesterol dan tekanan darah dapat ditekan dengan berolahraga sepeda. Hasil penelitian menyebutkan bersepeda dalam jarak yang pendek dan sering dilakukan akan mengurangi kematian kurang lebih 22% (NN, 29 Mei 2009. Manfaat Bersepeda untuk Kesehatanhttp://zonasepeda.com/artikel/manfaat-bersepeda-untuk-kesehatan.html. Diakses tanggal 17 April 2011). Maka risiko berbagai penyakit seperti serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes pun dapat dicegah dengan bersepeda.
Tanpa disadari pula, aktivitas bersepeda juga dapat meningkatkan mood yang ada dalam diri kita. Tingkat ketegangan dan stres dapat dikurangi dengan bersepeda. Tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Memang bersepeda dapat menimbulkan rasa lelah dan lemah karena tubuh kita akan bekerja ekstra keras dari biasanya. Tapi itu terjadi pada awalnya saja. Seterusnya apabila kita melakukannya secara berkala, maka rasa bugar lah yang akan didapat. Apalagi jika kita bersepeda sambil memperhatikan lingkungan sekitar, serta bersosialisasi dengan alam, maka semangat positif pun akan timbul dengan sendirinya.
Namun, bersepeda ternyata juga mempertimbangkan beberapa faktor. Seperti persoalan usia. Sebenarnya aktivitas ini baik bagi segala umur. Hanya saja bagi orang dewasa di atas 50 tahun, atau wanita di atas 40 tahun tidak disarankan untuk melakukan olahraga bersepeda. Itu karena risiko cedera tulang sangat tinggi, mengingat tingkat keseimbangan manula yang telah turun dan kualitas tulang yang semakin berkurang. Di samping itu adalah masalah kesehatan. Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung maupun asma disarankan untuk berhati-hati. Ini dikarenakan bersepeda memicu pernafasan untuk bekerja lebih cepat, sehingga dikhawatirkan akan langsung berdampak pada penderita jantung dan asma tersebut. Ada baiknya untuk mengkonsultasikan kesehatan dengan dokter ahli sebelum kita mulai bersepeda.
Sebelum bersepeda sebaiknya lakukan dulu beberapa pemanasan kecil. Cooling down dengan otot paha dan betis sangat dianjurkan, karena saat bersepeda kedua otot itulah yang maksimal digunakan. Sebaliknya kontraksi otot perut menjadi berkurang. Perhatikan pula jarak panjang tungkai dengan tinggi sadel. Jangan sampai lutut terlalu menekuk maupun terlalu lurus ketika mengayuh. Pastikan lutut hanya tertekuk sedikit, yakni sekitar 25 derajat, saat sedang mengayuh ke atas. Jarak terbaik saat mengayuh, paling jauh sudut lutut kurang dari 180 derajat sehingga efisiensi gerakan lebih baik (Damayanti, 24 Februari 2010. Manfaat Berlipat Olahraga Keluarga (2). http://tabloidnova.net/Nova/Kesehatan/Kebugaran/Manfaat-Berlipat-Olahraga-Keluarga-2. Diakses tanggal 17 April 2011).
Hal yang juga jangan dilupakan adalah keselamatan dalam berkendara. Pakailah helm dan pengaman (decker) agar terhindar dari cedera. Banyak pengendara sepeda yang tidak menganggap penting atribut-atribut dalam bersepeda. Namun sebenarnya semua itu merupakan sesuatu yang vital. Terlebih bila bersepeda di tengah jalan raya yang terdiri dari mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Akan lebih aman bila kita melengkapi diri dengan berbagai pengaman dalam mengendarai sepeda.
Selain manfaat bagi kesehatan diri, kegiatan bersepeda juga berdampak terhadap aspek lingkungan. Apabila dilakukan secara rutin dan beramai-ramai, polusi udara pun akan terkurangi. Terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. Tapi hal ini pun mengandung risiko, sebab kemungkinan terpapar polusi akan menjadi mudah bagi pengendara sepeda. Belum lagi risiko kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi agaknya hal itu tidak perlu dipusingkan lagi. Menurut jurnal penelitian Environmental Health Perspective, yang dikeluarkan Universitas Utrecht, Belanda, tahun 2010 menyebutkan, manfaat yang diperoleh dari kegiatan bersepeda di kota-kota jauh lebih besar, apabila dibandingkan dengan risiko kecelakaan dan polusi yang didapat. Asalkan kita bersikap hati-hati dan mengindahkan peraturan lalu lintas, niscaya keselamatan diri pun akan tetap terjaga.

Sumber     :http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE
 

Galau Merusak Prioritas Hidup?


Galau Merusak Prioritas Hidup?



ABG galau from Mice Cartoon™









‘Galau’ saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan istilah ini, terlebih bagi kaum muda masa kini. Bimbang, risau, cemas, dan gundah gulana sepertinya sudah melekat menjadi satu istilah, yaitu ‘Galau’. Bisa berarti penyempitan kata ini menimbulkan penyempitan makna pula. Kali ini kita tidak akan menelisik asal usul kata galau itu bagi kalangan anak muda masa kini. Oleh karena itu, kita akan mengintip lebih jauh efek samping apa yang akan di timbulkan oleh galau ini yang sudah menjadi tren.
Tempo hari saya sempat membaca sebuah artikel yang mengulas topik soal “mengetahui perilaku orang Indonesia melalui internet” walhasil, mereka memberikan spesifikasi cinta, pacar, dan galau menjadi tema populer dalam perbincangan media sosial di Indonesia. Dalam pemantauan seminggu saja selama 25 sampai dengan 31 Maret 2012, cinta menjadi topik hangat di Twitter Indonesia dengan 489.110 tweet[1]. Celakanya ketiga tema itu memiliki keterkaitan secara berkala. Pada akhirnya, dari hasil penelusuran SX Indeks, Yogyakarta menjadi kota yang paling sering membicarakan tema pacaran sekaligus kota yang paling sering galau di Twitter.
Ada apa dengan galau? Pertanyaan ini tidak bisa kita jawab dengan singkat. Ada langkah-langkah khusus untuk memahami perilaku dan sifat yang muncul berkat galau ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) galau di maknai sebagai; sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak karuan (pikiran). Bahkan beberapa orang seringkali berpendapat bahwa galau merupakan sebuah perasaan tidak enak yang ada pada pikiran karena kita bingung entah karena masalah cinta atau masalah pekerjaan yang memaksa kita untuk memilih sesuatu sehingga membuat kita bingung dan membuat emosi kita menjadi labil. Sifat galau ini sering kali menjangkit anak muda, akan tetapi galau sewajarnya tak hanya menyerang anak muda saja, melainkan hampir semua usia bisa merasakannya.
Perbincangan galau mendekatkan kita pada persoalan kebebasan versus kesepian, seperti apa yang pernah dibicarakan oleh Karen Horney dalam psikoanalisis sosialnya mengenai konflik dan kecemasan. Dalam buku psikologi kepribadian (Alwisol, 2005: 172), Karen juga berpendapat konflik dalam diri sendiri adalah bagian yang integral dari kehidupan manusia, misalnya dihadapkan dengan pilihan dua keinginan yang arahnya berbeda, atau antara harapan dan kewajiban, atau antara dua perangkat nilai.  Semua hal yang dirasa berada di persimpangan menyebabkan konflik dalam diri, begitu juga halnya galau. Terlepas dari hal konflik dalam diri, sejatinya kegalauan juga berangakat dari hal-hal sukar seperti kecemasan dalam diri yang seringkali memberikan kita rasa takut. Kecemasan dasar merupakan asal-muasal dari takut, suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan berteman dan tak berdaya lagi dalam dunia yang penuh dengan ancaman. Oleh karena itu, jika sebagian besar orang sudah mengalami kegalauan akut, maka gejala-gejala ketakutan akan selalu
Akankah kegalauan merusak prioritas hidup? Belum lama ini, saya sempat dikirimkan beberapa karikatur tentang tren kegalauan yang menjangkit anak muda sekarang.  Hasilnya, Mice Cartoon™ memberikan contoh gambar perilaku saat galau itu menjangkit. Pertama, seseorang yang sedang terjangkit galau seringkali meng-update status jejaring sosialnya dengan penuh ratapan, kalimat melankolis, dan keluhan yang berkaitan seputar kehidupan pribadinya, celakanya itu hanya curahan hatinya saja. Kedua, merasa dirinya paling sengsara di dunia, padahal hanya sedang mengalami masalah yang sepele, dan seakan-akan langit sudah runtuh, sejatinya masih banyak orang lain yang punya masalah lebih besar, tapi tidak berlebihan seperti ini. Ketiga, generasi galau ini cendrung lebih mendengar lagu-lagu yang bernuansa mellow, sehingga menyakinkan mereka untuk larut dalam kesedihannya. Keempat, merupakan imbas dan efek yang hendak ditimbulkan oleh galau, yaitu mental cengeng ternyata bisa menjadi tren dikalangan generasi muda kini, ‘kalau nggak galau bisa dibilang nggak gaul’.menghampiri mereka, terlebih pada menurunnya kepercayaan diri mereka.
Setelah saya amati dan sempat saya alami juga, bahwa kegalauan adalah alegori dasar atas orang-orang neurotik. Neurotik tidak mesti diartikan sebagai penyakit gangguan urat saraf, melainkan kecendrungan orang yang seakan-akan tidak pernah puas akan kehidupannya. Sewajarnya manusia. Pencarian kemuliaan yang neurotik adalah gambaran secara luas dan lengkap ke dalam semua aspek kehidupannya sebagai ambisi, konsep diri dan hubungan dengan orang lain. Kebanggan neurotik adalah kebanggaan yang tak tampak, bukan didasarkan pada diri yang bertindak secara nyata, tetapi didasarkan pada gambaran palsu dari diri yang ideal, menurut (Alwisol, 2005: 178). Orang neurotik yang mencari kemuliaan tidak akan pernah puas dengan dirinya sendiri. Begitu juga halnya galau, yang secara sadar atau tidak sadar ia telah membawa kita pada persimpangan bahwa rasa bersyukur atas yang didapat dalam hidup tidak pernah ada, hasilnya kita hanya dihadapkan pada persoalan; pilihan yang membuat bimbang, masalah, dan kesedihan.
Persoalan-persoalan di atas mestinya memberikan kita pencerahan untuk lebih membawa perasaan, mood, dan perilaku ke arah yang lebih baik. Bahkan, dilain hari saya pernah terjangkit galau ini. Ada beberapa gejala yang saya rasakan ketika galau ini mendera. Oleh karena itu, saya mengklasifikasikan gejala tersebut menjadi enam kategori gejala akut dari galau, sebagai berikut:
1. Menuntut kebutuhan kepada diri tanpa ukuran (demans on the self)
Gejala ini sejatinya merupakan contoh pemaksaan dari seharusnya. Orang memunculkan kebutuhan diri yang tidak pernah berhenti. Sewarjarnya manusia. Akan tetapi, ketika mereka sudah mencapai titik keberhasilan atau kesuksesan mereka masih mengalami perasaan kekurangan dan menuntut bergerak menuju kesempurnaan. Celakanya, gejala ini terkadang luput akan kemampuan yang dimiliki.
2. Menyalahkan diri sendiri tanpa ampun (merciless self accusation)
Gejala ini biasanya diiringi dengan rasa bersalah dari diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari ekspresi luar biasa hebat. Semisal, merasa dirinya bertanggung jawab terhadap bencana alam yang terjadi, padahal bencana itu merupakan ujian dan cobaan bagi kita dari yang maha kuasa (Tuhan).
3. Menghina diri sendiri (self contempt)
Gejala ini berbeda dengan gejala sebelumnya, walaupun serupa tapi tak sama. Di ekspresikan dalam wujud memandang kecil, meremehkan, meragukan, mencemarkan, dan menertawakan diri sendiri. Anak muda kini mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “kamu itu idiot yang sombong! Apa yang membuatmu berpikir bisa berpacaran dengan perempuan tercantik di kota ini?” Sedangkan, perempuan itu mengatakan bahwa sukses karirnya itu ‘nasib baik’.
4. Frustasi diri (self frustration)
Kebimbangan, dan kecemasan yang ditimbulkan dari galau itu seakan-akan telah membawa kita pada penundaan tujuan yang masuk akal. Hal ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang semakin rumit dan terlalu banyak. Sehingga menuntun kita kepada pembelengguan diri dengan tabu untuk menentang kesenangan.
5. Menyiksa diri (self torment)
Gejala ini sebenarnya termasuk gejala yang berbahaya. Biasanya, gejala ini mendorong kita untuk menyakiti diri sendiri baik itu melalui batin maupun fisik. Gejala ini juga melulu pada gejala sebelumnya. Sehingga kita seakan-akan mengalami penderitaan akibat suatu keputusan, memperparah sakit kepala, melukai diri sendiri dengan pisau kalau memang sudah mengalami titik frustasi yang berlebihan.
6. Hilangnya kepercayaan diri (self confidence)
Jikalau semua gejala sudah kita rasakan, maka ini merupakan gejala yang terakhir kita rasakan bahwa kita tidak percaya pada diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita lebih memilih pengasingan diri kita dari dunia luar. Mencari tempat yang lebih intim, sunyi, dan suka akan keheningan.
Dari penuturan di atas sepatutnya kita perhatikan dengan serius. Galau yang selama ini menjadi tren, semestinya tidak diartikan dengan serius. Semua orang semestinya mengalami hal kegalauan itu, karena proses kegalauan juga termasuk dalam proses pembentukan kedewasaan seseorang. Akan tetapi, bilamana galau itu selalu dirawat secara rutin maka hilangnya prioritas hidup akan melanda bagi kita. Apabila, seseorang dilanda kegalauan, saya mempunyai saran bagi anda-anda sekalian. Pertama, tingkatkan kesadaran dalam diri anda, dan kesadaran bukan memahami kekurangan kita semata melainkan memahami apa yang sudah kita punya untuk saat ini dan kedepannya. Kedua, bersikaplah cuek saat kegalauan itu mendera, cuek di sini dalam arti bukan tidak peka melainkan kita mesti mengabaikan segala macam pikiran yang membuat kita hilang percaya diri dan siap menerima resiko atas pilhannya. Ketiga, peliharalah sifat bersyukur atas pilhan yang telah kita pilih dan selalu berterima kasih atas apa yang diberi oleh yang maha esa (Tuhan). Begitulah paparan analisis kecil saya mengenai galau. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Sekian.

[1] Data ini diungkapkan pada saat peluncuran SX Indeks di FX, Jakarta. SX Indeks merupakan layanan baru kreasi lokal dari Salingsilang.com yang didesain untuk mengerti perilaku orang Indonesia melalui internet.

sumber      : http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE
 

Galau Merusak Prioritas Hidup?


Galau Merusak Prioritas Hidup?



ABG galau from Mice Cartoon™









‘Galau’ saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan istilah ini, terlebih bagi kaum muda masa kini. Bimbang, risau, cemas, dan gundah gulana sepertinya sudah melekat menjadi satu istilah, yaitu ‘Galau’. Bisa berarti penyempitan kata ini menimbulkan penyempitan makna pula. Kali ini kita tidak akan menelisik asal usul kata galau itu bagi kalangan anak muda masa kini. Oleh karena itu, kita akan mengintip lebih jauh efek samping apa yang akan di timbulkan oleh galau ini yang sudah menjadi tren.
Tempo hari saya sempat membaca sebuah artikel yang mengulas topik soal “mengetahui perilaku orang Indonesia melalui internet” walhasil, mereka memberikan spesifikasi cinta, pacar, dan galau menjadi tema populer dalam perbincangan media sosial di Indonesia. Dalam pemantauan seminggu saja selama 25 sampai dengan 31 Maret 2012, cinta menjadi topik hangat di Twitter Indonesia dengan 489.110 tweet[1]. Celakanya ketiga tema itu memiliki keterkaitan secara berkala. Pada akhirnya, dari hasil penelusuran SX Indeks, Yogyakarta menjadi kota yang paling sering membicarakan tema pacaran sekaligus kota yang paling sering galau di Twitter.
Ada apa dengan galau? Pertanyaan ini tidak bisa kita jawab dengan singkat. Ada langkah-langkah khusus untuk memahami perilaku dan sifat yang muncul berkat galau ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) galau di maknai sebagai; sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak karuan (pikiran). Bahkan beberapa orang seringkali berpendapat bahwa galau merupakan sebuah perasaan tidak enak yang ada pada pikiran karena kita bingung entah karena masalah cinta atau masalah pekerjaan yang memaksa kita untuk memilih sesuatu sehingga membuat kita bingung dan membuat emosi kita menjadi labil. Sifat galau ini sering kali menjangkit anak muda, akan tetapi galau sewajarnya tak hanya menyerang anak muda saja, melainkan hampir semua usia bisa merasakannya.
Perbincangan galau mendekatkan kita pada persoalan kebebasan versus kesepian, seperti apa yang pernah dibicarakan oleh Karen Horney dalam psikoanalisis sosialnya mengenai konflik dan kecemasan. Dalam buku psikologi kepribadian (Alwisol, 2005: 172), Karen juga berpendapat konflik dalam diri sendiri adalah bagian yang integral dari kehidupan manusia, misalnya dihadapkan dengan pilihan dua keinginan yang arahnya berbeda, atau antara harapan dan kewajiban, atau antara dua perangkat nilai.  Semua hal yang dirasa berada di persimpangan menyebabkan konflik dalam diri, begitu juga halnya galau. Terlepas dari hal konflik dalam diri, sejatinya kegalauan juga berangakat dari hal-hal sukar seperti kecemasan dalam diri yang seringkali memberikan kita rasa takut. Kecemasan dasar merupakan asal-muasal dari takut, suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan berteman dan tak berdaya lagi dalam dunia yang penuh dengan ancaman. Oleh karena itu, jika sebagian besar orang sudah mengalami kegalauan akut, maka gejala-gejala ketakutan akan selalu
Akankah kegalauan merusak prioritas hidup? Belum lama ini, saya sempat dikirimkan beberapa karikatur tentang tren kegalauan yang menjangkit anak muda sekarang.  Hasilnya, Mice Cartoon™ memberikan contoh gambar perilaku saat galau itu menjangkit. Pertama, seseorang yang sedang terjangkit galau seringkali meng-update status jejaring sosialnya dengan penuh ratapan, kalimat melankolis, dan keluhan yang berkaitan seputar kehidupan pribadinya, celakanya itu hanya curahan hatinya saja. Kedua, merasa dirinya paling sengsara di dunia, padahal hanya sedang mengalami masalah yang sepele, dan seakan-akan langit sudah runtuh, sejatinya masih banyak orang lain yang punya masalah lebih besar, tapi tidak berlebihan seperti ini. Ketiga, generasi galau ini cendrung lebih mendengar lagu-lagu yang bernuansa mellow, sehingga menyakinkan mereka untuk larut dalam kesedihannya. Keempat, merupakan imbas dan efek yang hendak ditimbulkan oleh galau, yaitu mental cengeng ternyata bisa menjadi tren dikalangan generasi muda kini, ‘kalau nggak galau bisa dibilang nggak gaul’.menghampiri mereka, terlebih pada menurunnya kepercayaan diri mereka.
Setelah saya amati dan sempat saya alami juga, bahwa kegalauan adalah alegori dasar atas orang-orang neurotik. Neurotik tidak mesti diartikan sebagai penyakit gangguan urat saraf, melainkan kecendrungan orang yang seakan-akan tidak pernah puas akan kehidupannya. Sewajarnya manusia. Pencarian kemuliaan yang neurotik adalah gambaran secara luas dan lengkap ke dalam semua aspek kehidupannya sebagai ambisi, konsep diri dan hubungan dengan orang lain. Kebanggan neurotik adalah kebanggaan yang tak tampak, bukan didasarkan pada diri yang bertindak secara nyata, tetapi didasarkan pada gambaran palsu dari diri yang ideal, menurut (Alwisol, 2005: 178). Orang neurotik yang mencari kemuliaan tidak akan pernah puas dengan dirinya sendiri. Begitu juga halnya galau, yang secara sadar atau tidak sadar ia telah membawa kita pada persimpangan bahwa rasa bersyukur atas yang didapat dalam hidup tidak pernah ada, hasilnya kita hanya dihadapkan pada persoalan; pilihan yang membuat bimbang, masalah, dan kesedihan.
Persoalan-persoalan di atas mestinya memberikan kita pencerahan untuk lebih membawa perasaan, mood, dan perilaku ke arah yang lebih baik. Bahkan, dilain hari saya pernah terjangkit galau ini. Ada beberapa gejala yang saya rasakan ketika galau ini mendera. Oleh karena itu, saya mengklasifikasikan gejala tersebut menjadi enam kategori gejala akut dari galau, sebagai berikut:
1. Menuntut kebutuhan kepada diri tanpa ukuran (demans on the self)
Gejala ini sejatinya merupakan contoh pemaksaan dari seharusnya. Orang memunculkan kebutuhan diri yang tidak pernah berhenti. Sewarjarnya manusia. Akan tetapi, ketika mereka sudah mencapai titik keberhasilan atau kesuksesan mereka masih mengalami perasaan kekurangan dan menuntut bergerak menuju kesempurnaan. Celakanya, gejala ini terkadang luput akan kemampuan yang dimiliki.
2. Menyalahkan diri sendiri tanpa ampun (merciless self accusation)
Gejala ini biasanya diiringi dengan rasa bersalah dari diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari ekspresi luar biasa hebat. Semisal, merasa dirinya bertanggung jawab terhadap bencana alam yang terjadi, padahal bencana itu merupakan ujian dan cobaan bagi kita dari yang maha kuasa (Tuhan).
3. Menghina diri sendiri (self contempt)
Gejala ini berbeda dengan gejala sebelumnya, walaupun serupa tapi tak sama. Di ekspresikan dalam wujud memandang kecil, meremehkan, meragukan, mencemarkan, dan menertawakan diri sendiri. Anak muda kini mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “kamu itu idiot yang sombong! Apa yang membuatmu berpikir bisa berpacaran dengan perempuan tercantik di kota ini?” Sedangkan, perempuan itu mengatakan bahwa sukses karirnya itu ‘nasib baik’.
4. Frustasi diri (self frustration)
Kebimbangan, dan kecemasan yang ditimbulkan dari galau itu seakan-akan telah membawa kita pada penundaan tujuan yang masuk akal. Hal ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang semakin rumit dan terlalu banyak. Sehingga menuntun kita kepada pembelengguan diri dengan tabu untuk menentang kesenangan.
5. Menyiksa diri (self torment)
Gejala ini sebenarnya termasuk gejala yang berbahaya. Biasanya, gejala ini mendorong kita untuk menyakiti diri sendiri baik itu melalui batin maupun fisik. Gejala ini juga melulu pada gejala sebelumnya. Sehingga kita seakan-akan mengalami penderitaan akibat suatu keputusan, memperparah sakit kepala, melukai diri sendiri dengan pisau kalau memang sudah mengalami titik frustasi yang berlebihan.
6. Hilangnya kepercayaan diri (self confidence)
Jikalau semua gejala sudah kita rasakan, maka ini merupakan gejala yang terakhir kita rasakan bahwa kita tidak percaya pada diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita lebih memilih pengasingan diri kita dari dunia luar. Mencari tempat yang lebih intim, sunyi, dan suka akan keheningan.
Dari penuturan di atas sepatutnya kita perhatikan dengan serius. Galau yang selama ini menjadi tren, semestinya tidak diartikan dengan serius. Semua orang semestinya mengalami hal kegalauan itu, karena proses kegalauan juga termasuk dalam proses pembentukan kedewasaan seseorang. Akan tetapi, bilamana galau itu selalu dirawat secara rutin maka hilangnya prioritas hidup akan melanda bagi kita. Apabila, seseorang dilanda kegalauan, saya mempunyai saran bagi anda-anda sekalian. Pertama, tingkatkan kesadaran dalam diri anda, dan kesadaran bukan memahami kekurangan kita semata melainkan memahami apa yang sudah kita punya untuk saat ini dan kedepannya. Kedua, bersikaplah cuek saat kegalauan itu mendera, cuek di sini dalam arti bukan tidak peka melainkan kita mesti mengabaikan segala macam pikiran yang membuat kita hilang percaya diri dan siap menerima resiko atas pilhannya. Ketiga, peliharalah sifat bersyukur atas pilhan yang telah kita pilih dan selalu berterima kasih atas apa yang diberi oleh yang maha esa (Tuhan). Begitulah paparan analisis kecil saya mengenai galau. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Sekian.

[1] Data ini diungkapkan pada saat peluncuran SX Indeks di FX, Jakarta. SX Indeks merupakan layanan baru kreasi lokal dari Salingsilang.com yang didesain untuk mengerti perilaku orang Indonesia melalui internet.

sumber      : http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE
 

Kolostrum, Susu Istimewa untuk Bayi Baru Lahir


Kolostrum, Susu Istimewa untuk Bayi Baru Lahir


Banyaknya pilihan susu formula di pasaran, ditambah  perubahan gaya hidup  membuat para ibu zaman sekarang lebih memilih susu formula daripada ASI ekseklusif. Padahal ada satu zat penting untuk bayi yang tidak terdapat dalam susu formula. Zat tersebut adalah kolostrum. Apa itu kolostrum? kolostrum adalah susu istimewa yang diproduksi  pada trimester III kehamilan sampai dengan hari ketiga atau keempat setelah persalinan. Kolostrum ini biasanya berwarna kuning sampai oranye dan lengket serta tebal. Mempunyai kandungan lemak rendah sedangkan kaya akan karbohidrat, protein. Dan mengandung antibodi tinggi untuk menjaga kekebalan tubuh anak.
Kolostrum bekerja sebagai vaksin alamiah dan sangat aman untuk dikonsumsi bayi baru lahir. Kolostrum mengandung antibodi dalam jumlah cukup besar yang disebut Imunoglobin sekretorik A (IgA). IgA  merupakan zat baru pada bayi baru lahir. Sebelum bayi lahir, ia mendapat antibodi lain yang disebut IgG melalui Plasenta. IgG bekerja melalui sistem sirkulasi bayi sedangkan IgA melindungi bayi di tempat-tempat yang sering diserang kuman, yaitu selaput lendir di tenggorokan, paru, usus. Kolostrum sangat mudah untuk dicerna dan merupakan makanan bayi yang sangat sempurna. Kolostrum juga memiliki efek pencahar untuk bayi baru lahir sehingga membantu untuk mengeluarkan tinja untuk pertama kalinya.( http://www.infoasi.com/informasi-tentang-apa-itu-kolostrum/ , Diakses tanggal 10 april 2012)
Menurut Infoasi.com, Pengeluran tinja untuk pertama kali penting karena Billirubin yang berlebih pada tubuh bayi juga ikut dikeluarkan bersama tinja pertama. Billirubin yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya kuning (Jaudince). Kolostrum tidak hanya menyediakan gizi sempurna untuk bayi baru lahir. Sejumlah sel-sel hidup untuk memberikan pertahanan pada bayi melawan kuman berbahaya juga tersedia pada kolostrum. Kadar kekebalan dalam kolostrum ini lebih tinggi daripada susu.
Masih menurut Infoasi.com tentang kolostrum, kolostrum juga berperan penting untuk saluran cerna bayi. Karena usus bayi baru lahir biasanya Permeable atau berlubang, Kolostrum berfungsi untuk menambal lubang di saluran cerna. Dalam kolostrum juga terkandung kadar sel darah putih yang tinggi untuk memproteksi dan menghancurkan bakteri penyebab penyakit. Kolostrum dapat berubah menjadi susu yang lebih matang selama dua minggu pertama setelah bayi lahir. Pada masa transisi ini kadar antibodi dalam susu berkurang namun volume susu akan meningkat. Selama bayi memperoleh ASI, ia akan mendapat perlindungan karena bahan-bahan pelawan penyakit tidak ikut hilang bersama Kolostrum.
Kapasitas lambung bayi yang berusia satu hari sekitar 5-7 ml atau sebesar kelereng. Lambung bayi berusia satu hari tidak dapat meregang untuk menampung lebih banyak makanan. Karena dindingnya masih kaku, susu yang berlebih sering dikeluarkan lagi. Kolostrum merupakan jumlah takaran yang tepat untuk bayi berusia satu hari. Kolostrum mengandung Vitamin dan Mineral dengan kombinasi sempurna yang dibutuhkan metabolisme , pertumbuhan, dan perkembangan normal. Vitamin dan mineral berfungsi sebagai Co-Enzim untuk membantu proses kimiawi dalam tubuh berjalan dengan benar. Kolostrum mengandung asam amino yang merupakan protein pembangun untuk pertumbuhan dan perkembangan. (http://www.infoasi.com/manfaat-dari-kolostrum/, diakses tanggal 10 april 2012)
Dengan banyaknya manfaat serta pentingnya Kolostrum untuk bayi baru lahir, seharusnya zat tersebut tidak digantikan oleh susu pengganti atau PASI. Tetapi karena banyaknya pilihan susu formula di pasaran serta anggapan seputar ASI membuat banyak para ibu tidak lagi memberikan ASI untuk anaknya. Seperti yang ditulis oleh Soetjiningsih dalam bukunya Tumbuh Kembang Anak (1997), Di Indonesia masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan ASI secara ekseklusif pada bayi, karena kaum ibu lebih suka memberikan susu formula daripada ASI. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan ibu, penyakit ibu, serta ibu-ibu yang beranggapan apabila ibu menyusui maka payudara tidak indah lagi sehingga suami tidak sayang. Padahal segala nutrisi penting yang ada dalam ASI tidak bisa begitu saja digantikan oleh susu formula. ASI yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada para ibu untuk anaknya memang sudah sesuai takaran dan kebutuhan dari bayi itu sendiri. kandungan ASI dalam setiap payudara ibu berbeda-beda karena disesuaikan oleh kondisi bayi tersebut.
Kolostrum yang merupakan susu pertama sebelum ASI benar-benar matang bahkan sudah terkandung di dalam susu formula. Walaupun kolostrum tersebut bukan merupakan kolostrum dari ASI manusia melainkan kolostrum sapi. Penggunaan kolostrum sapi pada susu formula ini disebabkan karena ketika melahirkan, sapi menghasilkan kolostrum dalam jumlah banyak. Kolostrum sapi merupakan satu-satunya kolostrum yang mendekati atau mirip seperti kolostrum yang dihasilkan manusia. Kolostrum sapi juga dapat berguna bagi manusia atau makhluk mamalia yang menyusui lainnya. Menurut Tanyadokteranda.com tentang penggunaan kolostrum sapi pada bayi baru lahir. Kolostrum sapi bisa saja digunakan untuk menggantikan kolostrum dari ASI. Tetapi, tidak ada satupun kolostrum pengganti yang sesempurna kolostrum ASI. Bila tidak ada kondisi yang menghalangi ibu untuk menyusui bayi, maka berikanlah kolostrum terutama pada masa awal kelahiran.
Pemberian susu formula pada bayi sebaiknya bukan sebagai makanan utama, tetapi lebih kepada pelengkap gizi atau pendamping. Karena kondisi tubuh dan pencernaan bayi yang belum sempurna pada masa awal kelahiran, pemberian susu formula pada bayi baru lahir menjadi kurang cocok. Susu formula dapat diberikan ketika bayi berusia 6 bulan. Karena pada saat usia tersebut, kolostrum sudah berubah menjadi ASI dan kandungan Proteinnya sudah menurun. Bayi membutuhkan gizi pendamping lain seperti makanan yang mulai diberikan ketika bayi berusia 6 bulan dan susu formula untuk penunjang pertumbuhan bayi.
Pemberian susu formula pada bayi baru lahir nyatanya menimbulkan masalah kesehatan dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI. Angka kejadian dan kematian akibat diare pada anak-anak di negara berkembang masih tinggi. Lebih-lebih pada anak-anak yang sedang mendapat susu formula dibandingkan dengan anak yang sedang mendapat ASI. Meningkatnya penggunaan susu formula dapat menimbulkan berbagai masalah, misalnya kekurangan kalori protein tipe marasmus, moniliasis pada mulut, dan diare karena infeksi (soetjiingsih,1997). Bahkan pada penelitian lain juga menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu formula dapat mengalami kesakitan diare 10 kali lebih banyak yang menyebabkan angka kematian pada bayi. Infeksi usus karena bakteri dan jamur 4 kali lebih banyak, sariawan mulut karena jamur 6 kali lebih banyak. Penelitian di Jakarta memperlihatkan presentasi kegemukan atau obesitas terjadi pada bayi yang mengkonsumsi susu formula sebesar 3,4% dan kerugian lain menurunnya  tingkat kekebalan terhadap asma dan alergi (Dwinda,2006).
Pemberian susu formula pada bayi yang seharusnya mendapatkan ASI menunjukkan bahwa kandungan zat-zat penting dalam ASI tidak bisa digantikan oleh susu formula. Apalagi untuk masalah kekebalan tubuh dan perlindungan organ-organ penting bayi baru lahir yang memang belum sempurna. Pemberian ASI pada bayi khususnya yang baru lahir selain melindungi organ penting, juga berfungsi untuk menenangkan bayi. Bayi yang baru lahir biasanya kaget karena lingkungan baru yang asing baginya. Pemberian ASI melalui sentuhan dari kulit ke kulit dapat menenangkan dan membuat bayi merasa nyaman. Lagipula, takaran ASI memang sudah sesuai untuk bayi dan sudah terjamin kebersihannya. Berbeda dengan susu formula yang harus diberikan dengan takaran tepat dan memerlukan peralatan yang benar-benar higienis. Sebenarnya bayi bisa diberikan susu formula semenjak lahir dengan catatan ibunya mengidap penyakit tertentu seperti Tuberculosis (TBC) atau AIDS. Tetapi jika ibunya dalam keadaan sehat mengapa tidak memberikan ASI juga?

Sumber       :http://parapenuliskreatif.wordpress.com
READMORE